Sampai akhir abad ke 20, benda
antariksa buatan manusia, dari ketinggian kurang dari 2.000 km mencapai sekitar
2.000 ton. Dari jumlah itu, 95% digolongkan menjadi sampah antariksa, dengan
jumlah satelit aktif hanya sekitar 5%.
Objek-objek tersebut mengorbit bumi
dan saling bertemu
dengan kecepatan rata-ata 10km/detik ( 36.000km/jam ). Jika
mereka mengalami tabrakan antara satu dengan lainnya, maka mereka aan hancur
menjadi kepingan-kepingan yang lebih kecil. Pada tahun 1960, jumlah satelit
yang pecah hanya 1 satelit per tahun. Tetapi, sejak tahun 1980, sudah mencapai
5 satelit yang pecah per tahun.
Diperkirakan lebih dari 40 juta
potongan dari pecahan satelit atau roket sangat membahayakan satelit aktif
karena tidak terdeteksi oleh jaringan radar saat ini. Sampah antariksa
berukuran sangat kecil dan jumlahnya
semakin banyak. Padahal, sampah halus ini berdampak negatif bagi satelit aktif.
Untuk sampah berukuran 0,01mm – 1cm
berdampak serius, apalagi jika terkena bagian-bagian yang sensitive. Satelit
mikro adalah salah satu satelit yang bertabrakan dengan sampah antariksa yang
berukuran besar hingga mengalami kerusakan yang serius.
Kasus tabrakan sebuah satelit
telekomunikasi milik AS dengan sebuah satelit tua Rusia yang sudah tak
berfungsi lagi membuat para ilmuwan antariksa prihatin. Hal ini tentu saja
menguatkan fakta bahwa benda-benda yang termasuk sampah antariksa itu sangat
berbahaya.
Kasus kerusakan lainnya juga dialami
oleh pesawat ulang alik Chalenger 1983. Kaca pelindung pesawat itu harus
diganti karena ditemukannya serpihan cat yang menabraknya. Ukuran serpihan cat
tersebut sangat kecil, hanya sekitar 0,3 mm. Tetapi, karena diperkirakan
kecepatan serpihan cat itu sangat tinggi, sekitar 14.000 km/jam, maka hal ini
cukup mengganggu.
Untuk kasus antenna teleskop
antariksa Hubble yang mengalami kerusakan akibat tumbukan sampah antariksa juga
menambah daftar panjang kasus yang disebabkan oleh sampah antariksa. Akibatnya
timbul lubang berukuran 1,9 cm x 1,7 cm.
Sampah antariksa tidak hanya
berakibat buruk bagi benda-benda langit lainnya, namun juga adanya kemungkinan
sampah tersebut jatuh ke bumi. Semakin rendah posisi orbit satelit atau sampah
antariksa, semakin cepat pula kemungkinan untuk jatuh ke permukaan bumi.
Masa hidup satelit atau sampah
antariksa bertahan pada orbitnya sangat bergantung pada hambatan atmosfer.
Semakin rendah ketinggian satelit, hambatan atmosfer semakin besar karena
semakin rapat.
Aktivitas matahari juga berkaitan
dengan sampah antariksa. Sampah antariksa jatuh ke bumi akibat terjadinya efek
pemuaian atmosfer karena peningkatan intensitas sinar ultra violet. Peningkatan
aktivitas matahari juga dapat menyebabkan kerapatan atmosfer meningkat dan
hambatan terhadap satelit juga meningkat. Satelit yang berada disekitar 1000 km
akan mengalami perlambatan gerak akibat peningkatan kerapatan atmosfer sehingga
akhirnya jatuh ke bumi. Jadi bisa disimpulkan bahwa factor yang menentukan
adalah ketinggian satelit saat terjadinya pemuaian atmosfer.
Ketika aktivitas matahri mulai
lemah, satelit atau sampah antariksa di ketinggian 600 km, akan mampu bertahan
selama puluhan tahun. Namun, jika matahari aktif, satelit dan sampah antariksa
tersebut hanya mampu bertahan selama 1 tahun. Saat Skylab jatuh pada tahun
1979, peningkatan aktivitas matahari yang melebihi perkiraan awal yang
mempengaruhinya.
Menambahnya jumlah benda antariksa
buatan manusia dan populasi antariksa, membuat potensi jatuhnya benda langit
semacam sampah antariksa semakin besar. Data pantauan jaringan radar
menunjukkan, bahwa setiap 2-3 hari, ada bekas satelit, atau sampah antariksa
yang jatuh ke bumi. Untuk benda yang berukuran besar dan memiliki bobot
beberapa puluh ton, rata-rata 2 minggu sekali, ada saja yang jatuh.
Bisa saja jika benda itu jatuh di
lapangan terbuka yang tak akan menimbulkan korban jiwa. Tapi bukan tidak
mungkin jika benda tersebut jatuh tepat di rumah warga. Hal ini tentu saja akan
membahayakan dan merugikan bagi warga. Meskipun benda langit berpotensi kecil
untuk membahayakan bumi beserta isinya, namun tak ada salahnya jika kita
waspada dan tanggap menghadapiny.
Berdasarkan penelitian, kemungkinan
seorang manusia terkena benda langit yang jatuh adalah 1 : 1.000.000.000.000.
Sedangkan kemungkinan yang ada pada pesawat terbang untuk terkena benda langit
tersebut adalah 1 : 10.000.000. Sampai
sejauh ini, memang belum ada laporan orang atau barang yang terkena benda jatuh
dari antariksa. Bila terkena, tentu saja dampaknya sangat hebat. Karena benda
yang jatuh dari antariksa mempunyai kecepatan sampai puluhan bahkan ratusan
km/jam.
Sumber : Kompassiana.com
0 komentar:
Posting Komentar