Senin, 08 Oktober 2012
Gerhana Matahari : Jenis, Proses Terjadi dan Cara Aman Melihat
Gerhana matahari terjadi
ketika posisi bulan terletak di antara Bumi dan Matahari sehingga menutup
sebagian atau seluruh cahaya Matahari. Walaupun Bulan lebih kecil, bayangan
Bulan mampu melindungi cahaya matahari sepenuhnya karena Bulan yang berjarak
rata-rata jarak 384.400 kilometer dari Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari
yang mempunyai jarak rata-rata 149.680.000 kilometer.
Gerhana
matahari dapat dibagi menjadi tiga jenis yaitu: gerhana matahari total, gerhana
matahari sebagian, dan gerhana matahari cincin. Sebuah gerhana matahari
dikatakan sebagai gerhana total apabila saat puncak gerhana, piringan Matahari
ditutup sepenuhnya oleh piringan Bulan. Saat itu, piringan Bulan sama besar
atau lebih besar dari piringan Matahari. Ukuran piringan Matahari dan piringan
Bulan sendiri berubah-ubah tergantung pada masing-masing jarak Bumi-Bulan dan
Bumi-Matahari. Gerhana sebagian terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak
gerhana) hanya menutup sebagian dari piringan Matahari. Pada gerhana ini,
selalu ada bagian dari piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan
Bulan.
Proses Terjadinya Gerhana
Gerhana matahari merupakan peristiwa jatuhnya bayang-
bayang bulan ke permukaan bumi akibat terhalangnya sinar matahari menuju bumi
oleh bulan. Kondisi ini terjadi jika matahari-bulan-bumi berada dalam satu
garis lurus serta bulan terletak di sekitar titik potong (titik noda) antara
bidang edar bulan mengelilingi bumi dan bidang edar bumi mengelilingi matahari.
Penampakan
gerhana yang berubah-ubah antara GMC atau GMT terjadi akibat perubahan ukuran
piringan bulan dan matahari dari bumi. Perubahan ukuran piringan bulan dan
matahari itu terjadi akibat lintasan bumi mengelilingi matahari dan lintasan
bulan mengelilingi bumi yang sama-sama berbentuk elips. Lintasan elips pulalah
yang membuat jarak matahari-bumi dan jarak bulan-bumi berubah secara periodik.
Pada saat jarak matahari-bumi (aphelion) mencapai
maksimum sebesar 152,1 juta kilometer, radius piringan matahari berukuran 944
detik busur (1 detik busur = 1/3.600 derajat). Adapun pada jarak terdekat
bumi-matahari (perihelion) sebesar 147,1 juta km, radius piringan matahari
mencapai 976 detik busur.
Sementara itu, jarak bulan- bumi pada titik terjauhnya
(apogee) pada jarak 405.500 km memiliki radius piringan bulan sebesar
882 detik busur. Adapun pada titik terdekatnya antara bulan-bumi sebesar
363.300 km, radius piringan bulan mencapai 1.006 detik busur.
Bayang-bayang bulan yang jatuh ke permukaan bumi
memiliki dua bagian, yaitu bayangan inti (umbra) dan bayangan tambahan (penumbra).
Penduduk bumi yang dilintasi wilayah umbra tidak akan melihat matahari karena
seluruh sumber cahayanya ditutupi bulan. Adapun jika berada di daerah yang
dilalui penumbra, mereka masih dapat melihat sebagian sinar matahari.
Dalam GMC, ujung umbra atau bayang-bayang bulan tidak
mencapai permukaan bumi. Hanya perpanjangan umbra(antumbra atau
antiumbra) saja yang sampai ke bumi. Daerah yang dilalui antumbra itulah yang
akan melihat matahari seperti cincin bercahaya di langit.
Gerhana
cincin terjadi apabila piringan Bulan (saat puncak gerhana) hanya menutup
sebagian dari piringan Matahari. Gerhana jenis ini terjadi bila ukuran piringan
Bulan lebih kecil dari piringan Matahari. Sehingga ketika piringan Bulan berada
di depan piringan Matahari, tidak seluruh piringan Matahari akan tertutup oleh
piringan Bulan. Bagian piringan Matahari yang tidak tertutup oleh piringan
Bulan, berada di sekeliling piringan Bulan dan terlihat seperti cincin yang
bercahaya.
Gerhana
matahari tidak dapat berlangsung melebihi 7 menit 40 detik. Ketika gerhana
matahari, orang dilarang melihat ke arah Matahari dengan mata telanjang karena
hal ini dapat merusakkan mata secara permanen dan mengakibatkan kebutaan.
Mengamati gerhana
matahari Dengan Aman
Seperti
diafragma pada kamera, mata manusia mempunyai pupil yang dapat melebar atau
menyempit untuk menakar jumlah cahaya yang memasuki mata. Pada suasana gelap,
diameter pupil membesar sampai 8 mm supaya terkumpul cukup cahaya yang
memungkinkan orang melihat dalam kegelapan. Di siang hari yang terik,
diameternya menyusut hingga 2 mm, bahkan mampu mengecil sampai sekitar 1,6 mm
jika berhadapan dengan cahaya yang menyilaukan.
Tetapi
penakaran cahaya oleh pupil ada batasnya, tidak kuasa menghalangi pancaran cahaya
matahari yang begitu hebat. Jika dihitung, cahaya langsung dari sang surya
mesti dilemahkan 50.000 kali supaya menjadi aman bagi mata, dijadikan 0,00002
kekuatan semula. Kalau tidak, orang yang nekad menantang matahari memang
berpeluang menjadi buta.
Karena
itu sehari-harinya silau pancaran matahari selalu dihindari. Tetapi ketika
gerhana tiba, orang bisa tertarik untuk mengamati wajah sang surya yang sedang
berubah menjadi sabit. Lupa daratan pun mungkin terjadi, abai terhadap bahaya.
Pada saat gerhana, pancaran surya dihalangi sebagian oleh bulan sehingga alam
menjadi redup dan pupil mata pun membesar. Tepat di saat orang mendongak ke
atas menatap matahari, pupil belum sempat bereaksi, padahal kecerahan permukaan
matahari tetap sama dahsyatnya dengan sehari-hari, ukurannya saja yang susut
membentuk sabit. Sudah tentu luar biasa besar bahaya kebutaan yang mengancam.
Lebih-lebih jika melihat melalui teropong, kamera atau instrumen optik lain
yang tidak dimodifikasi, karena ada lensa di situ yang memusatkan cahaya dan
sangat meningkatkan bahaya. Jangan pernah melihat gerhana matahari dengan mata
telanjang, apalagi dengan teropong atau kamera yang tidak dilengkapi dengan
khusus.
Melihat secara langsung ke fotosfer matahari (bagian
cincin terang dari matahari) walaupun hanya dalam beberapa detik dapat
mengakibatkan kerusakan permanen retina mata karena radiasi tinggi yang tak
terlihat yang dipancarkan dari fotosfer. Kerusakan yang ditimbulkan dapat
mengakibatkan kebutaan. Mengamati gerhana matahari membutuhkan pelindung mata
khusus atau dengan menggunakan metode melihat secara tidak langsung. Kaca mata sunglasses tidak
aman untuk digunakan karena tidak menyaring radiasi inframerah yang dapat
merusak retina mata.
Satu
hal yang harus diperhatikan saat mengamati matahari, baik ketika gerhana maupun
tidak gerhana, yaitu jangan melihat matahari secara langsung. Aturan ini
berlaku baik ketika mengamati matahari dengan mata telanjang maupun menggunakan
alat optik, seperti teleskop atau binokuler.
Untuk
melihat matahari harus menggunakan alat penapis cahaya yang mampu mengurangi
intensitas sinar matahari yang kuat agar tidak merusak retina mata. Sinar
matahari dapat menimbulkan kebutaan temporer hingga permanen. Kebutaan yang
terjadi tidak seketika setelah melihat matahari, tetapi perlahan-lahan yang
ditandai dengan berkurangnya ketajaman pandangan.
Cara
paling mudah dan praktis mengamati matahari adalah dengan menggunakan kacamata
yang didesain khusus dan dilengkapi filter yang mampu mengurangi intensitas
sinar matahari. Kacamata model ini banyak dijual di toko peralatan astronomi
maupun di internet.
Namun,
penggunaan kacamata ini harus memerhatikan kualitas filter yang digunakan.
Filter yang berkualitas rendah membuat pengamatan matahari hanya dapat
dilakukan beberapa detik yang harus diselingi jeda untuk mengistirahatkan mata
selama beberapa menit. Untuk itu, perlu ditanyakan kepada penjual kacamata
gerhana ini kualitas filter dan durasi aman mengamati matahari. Jangan melihat
matahari dengan menggunakan kacamata hitam biasa. Kacamata hitam umumnya
didesain hanya untuk mengurangi silau, bukan untuk mengurangi intensitas cahaya
matahari yang kuat.
Bagi
yang ingin mengamati matahari dengan teleskop atau binokuler, jangan lupa untuk
melapisi lensa yang langsung menghadap ke matahari dengan filter matahari.
Filter ini juga tersedia di sejumlah toko peralatan astronomi. Jika tidak,
pengguna teleskop atau binokuler dapat mengamati citra gerhana dengan melihat
proyeksinya. Cara ini dilakukan dengan mengarahkan lensa obyektif teleskop ke
matahari dan mengarahkan bayangan yang muncul dari lensa okulernya pada sebuah
kertas. Citra gerhana pada kertas itulah yang diamati, bukan melihat matahari
melalui lensa okuler teleskop.
Cara
lain yang agak sedikit membutuhkan usaha adalah dengan membuat kamera lubang
jarum atau pinhole. Kamera dapat dibuat dengan menggunakan kardus yang diberi
lubang yang dilapisi kertas aluminium untuk mengarahkan sinar matahari. Pada
bagian yang berseberangan dengan sisi kardus yang dilubangi, tempatkan kertas
putih untuk memproyeksikan sinar matahari. Citra pada kertas itu yang dapat
diamati.
Kotak Pemantau Gerhana
Sebuah contoh sederhana berwujud kotak karton yang
dapat dibuat sendiri . Bidang atas seluas kira-kira 30cm x 30cm diberi lubang
kecil (sering disebutpinhole) berdiameter sekitar 1 mm pada jarak 5cm
dari tepi. Melalui lubang ini, cahaya matahari nanti menerobos untuk membentuk
citra pada permukaan dalam di bidang bawah. Makin tinggi ukuran kotak, citra
matahari semakin besar. Tetapi demi praktisnya, cukuplah jika tinggi kotak
antara 50 sampai 80 cm.
Selanjutnya
pada tepi bidang atas dibuat lubang melebar sebagai tempat secukupnya bagi
kedua mata untuk mengintip ke dalam kotak. Dalam pemakaian, dengan membelakangi
matahari, kotak dipegang sambil mata mengintip ke dalam. Kotak
dimiring-miringkan sedikit untuk menemukan arah terbaik yang menghasilkan citra
matahari pada bidang bawah.
Dua
alasan yang membuat kotak ini aman. Pertama karena lubang kecil hanya
membolehkan sedikit pancaran matahari yang masuk. Kedua karena kita mengamati
dengan membelakangi matahari, menjauhkan mata dari sorotan sang surya.
Prinsip
yang sama juga ditemui di tempat lain. Mereka yang tidak sempat membuat kotak
dapat bersiap di bawah pohon yang masih meloloskan sedikit cahaya matahari,
sehingga dalam keadaan biasa menampakkan bulatan-bulatan terang di tanah. Coba
perhatikan bulatan-bulatan kecil itu, pada saat gerhana matahari bentuknya
menjadi sabit. Apabila angin berhembus menggoyang dedaunan, sabit-sabit terang
itupun bergerak lucu berkeliaran.
Setelah
peralatan untuk mengamati matahari siap, langkah selanjutnya adalah memilih
lokasi pengamatan. Pilih lokasi yang memiliki horizon yang luas. Puncak gedung
tinggi, gunung, dan pantai merupakan salah satu pilihan terbaik.
Namun
karena gerhana terjadi sore hari, bahkan di beberapa daerah di Indonesia
terjadi menjelang senja, harus dipilih lokasi yang memiliki pandangan bebas ke
arah barat. Hindari adanya gedung, pohon, atau obyek lain yang menghalangi
pandangan ke arah matahari. Kendala utama saat mengamati matahari adalah cuaca.
Saat ini, hampir seluruh wilayah Indonesia sedang memasuki puncak musim hujan
hingga Februari nanti. Karena itu, awan tipis, apalagi mendung, menjadi ancaman
utama dalam menikmati fenomena alam ini.
Gerhana matahari malam hari
Ternyata
gerhana matahari pada terjadi pada tengah malam. Fenomena ini terjadi di
Norwegia pada tengah malam hari ini, 1 Juni 2011. Hal ini mungkin seperti
sebuah kontradiksi untuk mengalami gerhana Matahari pada malam hari. Tapi, inilah
yang akan dilihat di wilayah Norwegia bagian utara, Swedia, dan Finlandia pada
1 Juni hari ini. Hal itu bisa terjadi karena, saat belahan Bumi utara mengalami
musim panas tahun ini, wilayah Artik tidak mengalami Matahari tenggelam.
Gerhana
yang akan terjadi hari ini adalah gerhana Matahari parsial. Gerhana ini ialah
gerhana Matahari tengah malam pertama setelah 31 Juli 2000 dan yang terdalam
sejak 1985. Penduduk setempat harus menunggu hingga tahun 2084 untuk
menyaksikan gerhana Matahari tengah malam yang lebih dalam.
Gerhana
matahari total juga bisa terjadi di tengah malam, seperti yang mungkin terjadi
pada 4 Desember 2021 dan 15 Desember 2039 di kutub selatan, di mana Desember
adalah musim ‘panas’ dan Matahari tak pernah tenggelam.”
Wilayah
Reykjavik, Eslandia, akan mengalami gerhana tepat sebelum senja hari ini.
Sementara wilayah China dan Siberia akan mengalaminya pada Kamis (2/6/2011)
fajar besok. Uniknya, berdasarkan publikasi space.com, wilayah China dan
Siberia akan mengalami lebih dulu. Jadi gerhana seolah-olah dimulai pada
tanggal 2 Juni 2011 dan berakhir pada 1 Juni 2011.
Untuk
gerhana kali ini, wilayah lain juga bisa melihat, tetapi bukan saat tengah
malam. Beberapa wilayah itu antara lain China, Siberia, Eslandia, Alaska,
Jepang, Korea Utara, dan Kanada.
Gerhana matahari Cincin
Gerhana
matahari cincin (GMC) terjadi karena piringan bulan tidak menutup sepenuhnya
piringan matahari, hanya sekitar 92 persen. Karena itu, saat puncak gerhana,
matahari terlihat seperti cincin yang memancarkan sinar di langit. Bagian
tengah matahari tertutup bulan sehingga tampak gelap. Penampakan seperti cincin
bersinar inilah yang membedakan GMC dengan gerhana matahari total (GMT). Saat
puncak GMT, seluruh piringan matahari tertutupi secara sempurna oleh piringan
bulan. Akibatnya, suasana terang akan berubah gelap untuk beberapa saat.
Salah
satu daerah di Indonesia yang memiliki waktu puncak GMC paling lama adalah
Pringsewu, Lampung, dengan lama fase cincin 6 menit 12 detik. Di Pringsewu,
gerhana dimulai pukul 13.19 WIB hingga pukul 17.52. Puncak gerhana terjadi
pukul 16.41.
Wilayah
di muka bumi yang dapat mengamati GMC ini adalah daerah yang dilewati antumbra
atau perpanjangan bayangan inti bulan. Pada gerhana kali ini, beberapa kota di
Indonesia yang dapat menyaksikan GMC adalah Tanjung Karang (Lampung), Serang
(Banten), Tanjung Pandan (Belitung), Ketapang (Kalbar), Puruk Cahu (Kalteng),
dan Samarinda (Kaltim).
Jalur lintasan GMC kali ini bermula di Samudra
Atlantik di sebelah barat daya Afrika pada pukul 06.06 UT (universal time)
atau 13.06 WIB. Selanjutnya, GMC akan terlihat menelusuri bagian selatan
Samudra Hindia, daratan Sumatera bagian selatan, Jawa bagian barat laut,
Kalimantan Barat bagian selatan, Kalimantan Tengah bagian utara, Kalimantan
Timur, Sulawesi Tengah bagian utara, dan berakhir di Perairan Mindanao,
Filipina, pada pukul 16.52. Jalur gerhana ini terentang sepanjang 14.500 km.
Waktu total gerhana yaitu sejak bayang-bayang penumbra bulan mencapai permukaan
bumi hingga bayang-bayang penumbra meninggalkan permukaan bumi, 3 jam 46 menit.
Lama
puncak GMC atau saat cincin matahari terlihat sempurna hanya 7 menit 54 detik
yang terjadi pada pukul 14.58. Kondisi ini hanya dapat diamati di Samudra
Hindia di barat daya Sumatera. Lebar jalur bayang-bayang antumbra bulan pada
saat puncak gerhana adalah 280,3 km atau sekitar 0,9 persen permukaan bumi.
Inilah yang membuat tidak semua daerah dapat menyaksikan GMC. Bahkan, lama fase
cincin di setiap daerah yang dilewati antumbra juga berbeda-beda.
Daerah
yang hanya dilalui penumbra atau bayangan tambahan bulan akan menyaksikan
gerhana matahari sebagian (GMS). Hampir seluruh wilayah Indonesia dapat
menyaksikan gerhana model ini, kecuali Papua akibat saat gerhana berlangsung,
matahari sudah tenggelam. GMS juga dapat diamati di sejumlah negara, seperti
negara-negara di bagian selatan Afrika, Madagaskar, India bagian tenggara,
Australia kecuali Tasmania, serta negara-negara Asia Tenggara.
Wilayah
di Indonesia bagian tengah dan timur dipastikan tidak akan bisa mengamati GMC
kali ini secara penuh. Awal gerhana yang terjadi menjelang senja membuat
beberapa daerah tidak bisa menikmati puncak gerhana, bahkan akhir gerhana.
Namun uniknya, mengamati gerhana pada waktu senja tentu mengasyikkan.
Meskipun
gerhana matahari selalu terjadi setiap tahun di bumi, panjangnya jeda waktu
antara gerhana yang satu dan berikutnya membuat GMC kali ini terasa unik
sehingga sayang untuk dilewatkan. Pada GMT 22 Juli 2009, Indonesia, khususnya
di bagian utara, hanya akan dapat mengamati fase GMS. Demikian pula pada GMC 15
Januari 2010, wilayah Indonesia bagian barat juga hanya akan dilewati fase GMS.
Wilayah
Indonesia baru akan dapat mengamati GMT pada 9 Maret 2016 yang terjadi di
sekitar Palembang, Bangka, Sulteng, dan Halmahera. Jadi, masyarakat Indonesia
baru akan melihat gerhana matahari secara penuh pada tujuh tahun lagi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)








1 komentar:
7 Maret 2016 pukul 15.26
wah ternyata proses terjadinya gerhana matahari gitu ya http://resepmasakanjawa13.blogspot.co.id/
Posting Komentar