Tapi mari kita coba kenali lebih jauh bagaimana astronom profesional bekerja. Astronom adalah seseorang yang mempelajari benda-benda langit. Dan untuk masa sekarang astronom profesional adalah orang yang memiliki latar belakang pendidikan astronomi ataupun fisika yang bekerja di institusi astronomi sebagai peneliti dll.
Nah, kerja seorang astronom profesionalkurang lebih sama dengan pekerjaan lainnya. Ada jam kantor (walaupun cukup fleksibel), ada bos, ada gaji, ada target baik jangka pendek (walaupun kadang ditentukan sendiri) maupun jangka panjang (ini biasanya ditentukan bos), ada meja kerja, ada komputer, ada internet kecepatan tinggi, ada alat kantor dan printer, dan ada rehat kopi.
Siklus kerja seorang astronom profesional terkadang dapat dibagi menjadi empat bagian yang jelas:
1. Menulis proposal dan mencari dana,
2. Mengambil data,
3. Mengolah dan menganalisis data,
4. Menulis paper dan konferensi.
Ketika seorang astronom menemui persoalan yang ingin ia selesaikan, ia lalu mengajukan satu atau dua solusi yang kemudian ia ungkapkan dalam sebuah proposal penelitian. Proposal penelitian ini biasanya ada dua macam: proposal untuk mencari dana penelitian dan proposal untuk menggunakan teleskop/instrumen pengamatan.
Dalam proposal pencarian dana, seorang astronom harus mampu menjelaskan mengapa persoalan ini pantas dijawab, apa pentingnya, dan bagaimana jawaban atas persoalan ini dapat berkontribusi pada ilmu pengetahuan. Proposal ini biasanya diajukan kepada lembaga pendonor (biasanya badan pemerintahan) atau pihak swasta (umumnya yayasan milik perusahaan besar). Selain itu astronom biasanya juga harus menjabarkan berapa tenaga kerja (berapa mahasiswa, postdoc, dll.) dan prasarana yang dibutuhkan (apakah perlu supercomputer, percobaan, teleskop, ataukah hanya kertas dan pinsil saja) untuk menjawa persoalan ini.
Bila astronom membutuhkan teleskop untuk mengambil data yang dibutuhkan, maka dalam proposal pengamatan ini astronom harus dapat menjelaskan
- Mengapa ia membutuhkan kapabilitas teleskop tersebut. Misalnya, bila ingin mengamat dengan Teleskop Hubble, mengapa harus pakai Hubble dan apakah tidak bisa pakai teleskop lain saja? Atau bila ingin mengamat dengan telesckop Keck, kenapa harus pakai teleskop Keck dan tidak pakai Subaru saja, dll.
- Perlukah ia mengambil data baru, atau bisakah dicari dari arsip citra yang sudah diambil oleh teleskop tersebut? Kedua pertanyaan ini penting untuk dijawab karena yang ingin mengamat lebih banyak daripada waktu pengamatan yang tersedia. Oleh karena proposal yang ada harus diseleksi dari segi pentingnya pada ilmu pengetahuan dan juga pemanfaatan kemampuan teleskop tersebut secara maksimal.
Setelah astronom memperoleh dana untuk melangsungkan penelitiannya dan memperoleh persetujuan observatorium yang disasarnya untuk mengamat, mulailah ia mempersiapkan diri untuk pengamatan. Jadwal mengamat yang diberikan observatorium pada umumnya sudah pasti dan tidak boleh diganggu-gugat, karena banyak orang pada mengantri mau mengamat. Bila kita sudah diberi jadwal dari tanggal A sampai B maka kita harus datang pada tanggal A dan sudah harus angkat kaki pada tanggal B. Kalau kita masih nongkrong pada tanggal B maka sudah pasti akan diamuk oleh astronom lain yang sudah mau ambil data mulai dari tanggal B. Oleh karena itu harus disiplin.
Bagian ini biasanya dilakukan di institut tempat si astronom bekerja. Data yang sudah diambil seringkali masih mentah dan masih mengandung derau. Data tersebut kemudian harus diolah untuk menghilangkan derau. Setelah itu data tersebut harus dianalisis dan dibuat interpretasi akan gejala yang diamati. Analisis ini biasanya menggunakan statistika dan perangkat analisis lainnya, dan juga harus banyak membaca-baca literatur untuk perbandingan.
Setelah data sudah dianalisis dan sudah ditarik kesimpulan akan apa yang bisa kita pelajari dari data tersebut, maka astronom mulai menulis sebuah paper untuk menjelaskan motivasinya, proses pengambilan data, proses analisis, dan kesimpulan yang bisa ditarik dari penelitian ini. Astronom juga memberikan saran tentang apa yang bisa dilakukan selanjutnya. Paper ini kemudian diserahkan kepada jurnal ilmiah yang menggunakan proses penilaian sejawat (peer review), sehingga rekan-rekan si astronom bisa mengevaluasi apakah pekerjaan si astronom sudah baik.
- Jam kerja fleksibel. Pada umumnya kita terikat jam kerja 40 jam seminggu, namun kita tidak terikat jam kantor jam 9 sampai jam 17. Boleh datang semaunya dan pulang sesuka hati, asalkan target terpenuhi.
- Suasana kerja informal. Institut ilmiah pada umumnya tidak punya dress code yang baku dan orang boleh datang ke kantor dengan memakai kaus, celana pendek, atau sandal. Meja kerja pun tidak perlu rapi.
- Pada intinya institusi ilmiah memberikan lebih banyak kebebasan individual untuk mengoptimalkan proses berpikir dalam rangka menyelesaikan persoalan yang dihadapi
Sumber : langitselatan.com






0 komentar:
Posting Komentar